Hal-Hal Krusial yang Harus Diperhatikan Sebelum Bercita-cita Jadi Guru

Menurut pandangan masyarakat umum, menjadi guru adalah pekerjaan yang mudah. Bekerja bisa menyesuaikan dengan jam belajar peserta didik, ketika siswa libur panjang guru pun akan libur panjang. Namun, ada beberapa hal yang belum dipahami oleh sebagian besar orang tentang karir sebagai seorang guru.

1.  Karena harus digugu dan ditiru, guru harus pintar berpura-pura di depan peserta didik.

Guru juga manusia. Menjalani keseharian sebagai seorang guru di sekolah, berarti harus berani menyembunyikan perasaan susah, sedih, gundah gulana yang sedang ia rasakan. Di depan peserta didik semua harus terlihat baik-baik saja. Peserta didik tidak akan senang melihat wajah guru penuh dengan masalah di depan mereka. Apalagi latar belakang keluarga mereka juga berbeda-beda. Kalau mereka datang dari keluarga mainstream, tidak akan ada masalah baru. Tapi kebanyakan peserta didik sekarang berasal dari keluarga antimainstream. Jadi, guru tidak boleh tampil penuh masalah karena akan berdampak menambah masalah.

2. Menjadi guru bukan hanya soal mengajar di kelas, administrasi dan tugas tambahan juga menggunung.

Tantangan sebagai seorang guru bukan hanya ketika mengajar di kelas, struktur organisasi di sekolah mentakdirkan guru untuk mengemban tugas tambahan, entah itu kepala sekolah, wakil kepala sekolah, pembina OSIS, wali kelas, pembina ekstrakurikuler, operator sekolah, dan lain-lain dengan tidak meninggalkan kewajiban mengajar di kelas. Ketika dihadapkan dengan tugas tambahan ini, mau tidak mau guru harus pintar mengatur mana yang harus didahulukan, mengajar di kelas atau menyelesaikan deadline tugas tambahan. Bahkan menyelesaikan semua tugas ini tidak cukup hanya menggunakan jam kerja ketika di sekolah, alhasil berlanjut di rumah. 

3. Sistem penggajian 1 minggu untuk 1 bulan.

Kalau ingin kaya harta, hindarilah pekerjaan guru. Menjadi guru tidak akan menjadikan seseorang kaya harta, melainkan kaya pengalaman. Sampai saat ini jam mengajar guru di sekolah tidak dihitung setiap kali mengajar, namun 1 minggu mengajar untuk perhitungan 1 bulan. Misalkan seorang guru dibayar 50.000 untuk 1 jam pelajaran (45 menit), seminggu mengajar 20 jam, maka gaji yang diterimanya mengajar selama 1 bulan adalah 1.000.000 (50.000 x 20 jam), tidak dikali 4 minggu. Tidak heran, banyak guru yang harus mencari tambahan dengan mengajar privat di luar jam mengajar sekolah. Semua demi penghidupan yang layak. Dan jangan takjub dengan guru yang membawa mobil ke sekolah. Mereka bisa seperti itu karena memang berasal dari keluarga kaya atau mempunyai bisnis lain selain menjadi guru. 

4. Idealisme di kampus keguruan akan tumbang oleh kenyataan di dunia kerja.

Kenyataan di dunia kerja pelan-pelan akan menyadarkan seorang guru bahwa idealisme di kampus tidak bisa mutlak diberlakukan. Misalkan rencana pembelajaran yang dibuat begitu sempurna ketika di kampus, tidak akan berlaku ketika diterapkan di sekolah. Beberapa faktor penyebabnya karena sarana prasarana yang tidak menudukung, ataupun godaan bertindak curang karena idealisme tidak sebanding dengan upah yang diterima. 

5. Orientasi nilai, remidi berkali-kali guru tetap harus mengkatrol nilai.

Deadline administrasi dan tugas tambahan menyebabkan guru tidak fokus mencari ide kreatif yang bisa diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Orientasi belajar masih menuntut nilai yang tinggi. Alhasil, beberapa peserta didik yang lemah di bidang akademik akan sempat merasakan remidial berkali-kali dan terakhir guru harus mengkatrol nilai. Apapun yang terjadi, semua demi nilai tinggi di rapor atau ijazah. Padahal kenyataannya mencapai nilai KKM saja tidak bisa.

 

Well, apapun faktanya, menjadi guru tetap adalah hal yang mulia. Yang bertahan adalah yang mampu melewati seleksi alam di awal karir keguruan. Semoga bermanfaat. 

Baca Pula Suguhan Artikel Bermanfaat :